Lima Faktor Penentu 33 Juta Anak Indonesia Menjadi Generasi Maju

Data Profil Kesehatan Indonesia yang diterbitkan Pusat Data Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2017 lalu mencatat ada lebih dari 33 juta anak usia dini yang mendominasi piramida penduduk Indonesia. Ke-33 juta anak Insonesia yang akan menjadi penentu masa depan bangsa Indonesia. Wow termasuk 3 anakku pastinya ya.

Sekarang ini sedang marak-maraknya membahas tentang anak-anak generasi milenial. Apa sih itu? Anak-anak generasi milenial adalah anak-anak yang dilahirkan setelah tahun 2000. Kemajuan teknologi yang begitu cepat dan pesat mengantarkan generasi milenials ke era modern yang lebih maju. Anak-anak generasi milenial di tahun 2019 ini berada di usia remaja dan akan mencapai masa produktifnya 5 sampai 10 tahun ke depan.

Wah terbayang olehku ketiga anak lelakiku yang lahir di tahun 2010-2018 yang lalu akan memcapai usia produktifnya di tahun 2035-2045 mendatang. Harapanku sebagai seorang ibu tidak muluk-muluk. Ingin sekali semua berhasil sukses menjadi generasi maju. Tentu saja generasi maju tidak bisa instant diciptakan. Dari mulai di dalam kandungan baik stimulasi maupun nutrisi tentu saja harus terpenuhi kebutuhannya.

  1. Persiapkan kehamilan dengan nutrisi yang terbaik.

Pasti di benak seluruh orang tua ada banyak pertanyaan bagaimana sih caranya untuk menjadikan anak generasi maju. Mami Mungil mencoba merangkumnya di tulisan kali ini.

Sudah sering mendengar 1000 tahun hari pertama bagi anak? Yup 1000 hari ini dimulai dari sejak Ibu mengandung. Seringkali sebagai seorang calon ibu atau yang sudah menjadi ibu sekalipun (untuk kehamilan kedua dan selanjutnya) tidak menyadari bahwa sudah terjadi pembuahan kehamilan. Ibu baru sadar saat kehamilan diketahui saat sudah berusia 6 atau 10 minggu. Sedangkan di awal kehamilan ibu membutuhkan banyak nutrisi berupa vitamin, mineral, asam folat. Penuhi asupan gizi sedari sebelum hamil salah satu upaya kita untuk mencetak generasi maju. Penuhi nutrisi gizi seimbang bagi buah hati tercinta. Anak tumbuh sehat terhindar dari stunting

Dikutip dari Jendela Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, kandungan makanan dengan nutrisi seimbang menjamin terpenuhinya kebutuhan tubuh anak dalam berkarya dan beraktivitas. Dengan mengonsumsi makanan yang cukup nutrisi secara teratur, anak akan tumbuh sehat sehingga mampu mencapai prestasi belajar yang tinggi.

Bahkan ahli gizi Josh Bezoni seperti dikutip dari Metro mengungkapkan bahwa anak yang tidak diberi makanan dengan nutrisi seimbang dapat mempengaruhi retensi motori, konsentrasi, dan keterampilan berpikir yang kritis.

Dilansir dari Jamaica Observer, ahli gizi dan diet Jenelle Solomon mengungkapkan faktor paling penting yang harus dipertimbangkan orang tua adalah komposisi nutrisi anak. Orang tua berperan untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan semua nutrisi yang mereka butuhkan untuk perkembangannya.

Makanan yang bergizi seimbang isi piringku. Yang baik adalah 1/2 piring buah dan sayur, 1/4 karbohidrat, 1/4 protein hewani dan nabati. Roti gandum, nasi merah, ubi, singkong merupakan karbohidrat yang bergizi baik. Dahulu masih 4 sehat 5 sempurna. Sekarang sudah diperbaharui menjadi makanan bergizi seimbang.

Makanan bergizi seimbang adalah salah satu cara untuk mencegah stunting pada anak. Stunting adalah kondisi di mana anak kekurangan nutrisi sehingga tumbuh kembangnya mengalami gangguan. Penderita bisa saja bertubuh kurus ataupun gemuk. Risiko paling tinggi terjadi pada anak-anak berusia 0-2 tahun. Selain bertubuh lebih pendek dari rata-rata anak di usianya, penderita juga akan menunjukkan beberapa tanda lain seperti kesulitan dalam belajar, kemampuan kognitif yang lemah, mudah lelah, dan tidak seaktif anak-anak seusianya . Saat ini sayangnya Indonesia masih menduduki peringkat ketiga di Asia Tenggara untuk masalah stunting ini.

Tak hanya masalah stunting, kekurangan nutrisi bisa berdampak hidden hunger yaitu kekurangan gizi mikro.
30% Balita Indonesia mengalami kekurangan gizi mikro. Vitamin A, Zat besi, dan yodium.

Bagaimana cara menghindarinya? Kembali lagi kita sebagai orang tua harus aktif dalam memberikan nutrisi pada anak. Sejak mulai di dalam kandungan, memenuhi asi eksklusif 6 bulan, dilanjutkan dengan makanan pendamping asi yang baik. Sesuai WHO mpasi setelah bayi1 berusia 180 hari, langsung anak-anak diberikan makanan pendamping 4 bintang sudah tidak makanan tunggal saja. Karbohidrat, protein nabati hewani, lemak, buah, dan sayuran juga mesti tercukupi seperti isi piringku.
Variasikan makanan, jenis, tekstur, kenalkan banyak rasa pada anak.

2. Stimulasi sesuai kebutuhan anak

Stimulasi bisa dilakukan dari sejak bayi. Jangan dulu berpikir yang pelik atau rumit dulu ya. Dari stimulasi pendengaran misalnya, rangsangan efek kaget, berbagai macam bunyi-bunyian bisa dikenalkan sejak bayi. Lakukan semua stimulasi hanya ketika bayi dan anak dalam keadaan perut kenyang cukup asi dan makan, dalam keadaan sehat dan ceria.

Beranjak besar asah minat dan bakat anak. Kenalkan dengan berbagai profesi. Baik yang sudah umum maupun yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya. Di masa saya kecil tidak terbayang bahwa sekarang banyak sekali blogger-blogger handal, influencer yang bisa berkarya melalui media sosial dan media digital. Tak sekedar profesi yang sudah umum seperti dokter, pilot, bahkan anak pun sudah bisa dikenalkan untuk membuat karya yang kreatif sedari dini. Tentunya dengan arahan dan sesuai dengan umur anak-anak.

  1. Olahraga gerak fisik
    Nutrisi dan gizi baik saja baik tetapi tentu tidak cukup. Anak generasi maju harus kuat daya tubuhnya. Selain asupan gizi yang seimbang diperlukan aktifitas fisik berupa cardiovascular yang cukup bagi anak. Rutin berolah raga tentu menjadi kegiatan yang sangat baik bagi anak.

Bagaimana ya supaya anak mau dan rajin berolahraga? Tentunya dimulai dari kita sebagai orang tua. Jika anak melihat orang tuanya berolah raga apalagi secara rutin maka anak akan meniru, mencontoh, dan mengikuti kebiasaan baik berolah raga.

  1. Lengkapi kebutuhan emosi dan kenalkan iman serta taqwa pada anak.

Tidak bisa dipungkiri dari waktu ke waktu kekhawatiran orangtua akan masa depan anak dari sisi pergaulan selalu saja ada. Walaupun anakku masih kecil-kecil kekhawatiranku akan narkoba, terlebih pergaulan bebas membuatku was-was.

Sumber : http://m.tribunnews.com/amp/kesehatan/2019/01/25/masa-depan-bangsa-ditangan-33-juta-anak-indonesia-faktor-ini-jadi-penentunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *